Jumat, 18 November 2016

RANGKAIAN DAN KERJA LAPU SEIN


RANGKAIAN DAN KERJA LAMPU SEIN


Semua sepeda motor pasti dilengkapi dengan sistem lampu sein atau tanda belok. Sistem tanda belok sebetulnya juga diterapkan pada teknologi yang lebih rendah yaitu sepeda atau ontel, dimana sistem tanda beloknya menggunakan tangan yang berfungsi untuk memberi tahu pengendara lain bahwa dirinya akan berbelok. Selain lampu sein, pada sepeda motor besar juga dilengkapi dengan lampu hazard atau lampu tanda bahaya yang berkedip pada kedua lampu seinnya, yaitu kanan dan kiri baik depan maupun belakang secara bersamaan.
Hasil gambar untuk LAMPU SEIN SHOGUN 125

Fungsi Sistem Lampu Sein / Tanda Belok

Fungsi dari sistem lampu sein atau tanda belok adalah untuk memberi isyarat pada kendaraan lain bahwa sepeda motornya akan berbelok ke kiri atau ke kanan maupun pindah jalur. 

Komponen Sistem Lampu Sein / Tanda Belok

Komponen utama sistem lampu sein atau tanda belok yaitu dua pasang lampu, flasher/turn signal relay, dan three-way switch atau saklar lampu tanda belok tiga arah. Flasher tanda belok adalahalat yang menyebakan lampu tanda belok berkedip secara interval atau jarak waktu tertentu antara 60 sampai 120 kali kedipan setiap menit. Ada 3 (tiga) jenis flasher yaitu: flasher dengan kapasitor, flasher dengan bimetal, dan flasher dengan transistor. Pada artikel ini Guru Otomotifakan membahas cara kerja sistem lampu sein atau tanda belok dengan flasher jenis kapasitor.

Rangkaian sistem lampu sein / tanda belok tipe flasher kapasitor

Contoh rangkaian dari sistem lampu sein atau tanda belok dengan flasher tipe kapasitor pada sepeda motor adalah seperti pada gambar berikut ini:

Cara Kerja sistem lampu sein / tanda belok tipe flasher kapasitor

Adapun cara kerja dari sistem lampu sein atau sistem tanda belok dengan flasher tipe kapasitor yang digunakan pada sepeda motor adalah sebagai berikut: 

Ketika kunci kontak dihubungkan, dan saklar lampu sein masih pada posisi OFF, maka arus mengalir ke L2 lewat plat kontak P dan kemudian mengisi kapasitor. Setelah saklar lampu sein diarahkan pada salah satu lampu misalnya kanan atau kiri, maka arus juga mengalir ke L1 dan diteruskan ke lampu tanda belok, maka lampu sein atau tanda belok pun menyala. Dalam keadaan ini L1 menjadi magnet.


Selanjutnya setelah kumparan L1 menjadi magnet, plat kontak (contact point) P terbuka dan arus yang mengalir ke lampu menjadi kecil karena melewati tahanan R. Plat kontak tetap dalam posisi terbuka selama kumparan L2 masih menjadi magnet yang diberikan oleh kapasitor sampai dengan muatan dalam kapasitor tersebut habis. Untuk lebih jelas perhatikan gambar di bawah ini.

Setelah muatan kapasitornya habis, lalu kemagnetan yang ada pada kumparan menjadi hilang dan plat kontak pun akan menutup kembali. Maka arus yang besar akan mengalir kembali ke lampu sehingga lampu akan menyala dan juga terjadi pengisian pada kapasitor. Langkah atau cara kerja tersebut terjadi seterusnya dan berulang-ulang sehingga lampu sein atau lampu tanda belok menjadi berkedip.


Demikianlah artikel tentang rangkaian dan cara kerja sistem lampu sein tanda belok, semoga artikel mudah dipahami dan bermanfaat. Untuk cara kerja dan rangkaian dari sistem lampu tanda belok atau lampu sein dengan flasher tipe bimetal dan tipe transistor akan kami bahas pada 

pengenertian kelakson dan sistem klakson

Pengertian klakson & Sistem klakson

  1. A.          Pengertian & Fungsi klakson
Klakson merupakan alat untuk berkomunikasi antara pengemudi kendaraan yang satu dengan yang lainnya. Klakson digunakan saat pengemudi ingin”berbicara” atau memberi isarat kepada pengemudi yang lain untuk keselamatan dan keamanan kedua belah pihak, misalnya, ketika hendak mendahului, meminta ruang jalan, dan sebagainya.Sedangkan bunyi itu timbul karena adanya getaran. Agar klakson dapat di dengar dengan baik dan sesuai dengan peraturan pemerintah, maka klakson harus mempunyai frekuensi getaran antara 1800-3550Hz
Karena kegunaannya untuk berkomunikasi antar pengendara, maka klakson seharusnya baru digunakan ketika ada keperluan komunikasi tersebut.
Klakson yang tidak berbunyi bisa disebabkan oleh kontak – kontak yang menghubungkan klakson dengan sumber arusnya terputus, kendor, atau kotor. Hubungan klakson dengan sumber arus yang terputus mengakibatkan membran pada klakson tidak bisa bergetar, karena tidak terjadi kemagnetan. Dengan tidak adanya getaran membran tersebut maka tidak akan timbul bunyi. Kontak – kontak atau sambungan yang kendor juga menghambat jalannya arus listrik sehingga arus yang mengalir menjadi sangat kecil dan tidak mampu menimbulkan kemagnetan yang kuat sehingga membran hanya dapat bergetar lemah, sehingga bunyi yang dihasilkannya pun kurang keras. Kontak – kontak yang kotor sama halnya dengan kontak – kontak yang kendor.
  1. B.           Cara kerja rangkaian & gambar rangkaian
Berikut adalah rangkaian sederhana klakson mobil yang di gunakan untuk kendaraan secara umum.
Komponen utama rangkaian yang di pakai:
  • Relay klakson
  • Saklar klakson
  • Klakson
Cara kerja rangkaian:
  1. Arus listrik stand by + 12 volt terdapat di sekring dan kaki relay no 1 dan 3
  2. Saat switch horn/saklar klakson terhubung dengan menekan saklar klakson atau horn pad di kemudi, arus listrik mengalir melewati kumparan relay dan terdapat beda potensial atau tegangan di kaki relay no 1 dan 2,
  3. Terbentuk  medan magnet di relay untuk menarik kontak relay dan menghubungkan terminal 3 dengan 4, arus listrik mengalir dari terminal 3 ke terminal 4 relay menuju klakson ke ground, sehingga klakson bunyi.
Hasil gambar untuk rangkaian klakson
Gambar rangkaian klakson
    1. C.          
      Analisa klakson tidak bunyi
    • Jika horn pad di kemudi atau steer ditekan akan terdengar suara relay terhubung, tetapi klakson tidak bunyi kemungkinan klakson rusak atau relay rusak. Relay rusak bisa karena kontak relay kotor atau berkerak sehingga tidak terhubung dengan baik atau kontak relay patah.
    • Jika horn pad di kemudi di tekan tidak terdengar suara relay, kemungkinan fuse horn atau sekring klakson putus, kalau sekring klakson tidak putus kemungkinan kumparan relay putus atau jalur sepanjang relay kaki no 2 menuju ground putus termasuk horn pad rusak, silakan lihat klakson tidak bunyi saat belok

    rangkain dan komponen lampu kepala

    Rangkaian Dan Komponen Lampu Kepala


    Lampu Kepala berfungsi untuk menerangi jalan pada malam hari. Umumnya lampu kepala dilengkapi lampu jarak jauh dan jarak dekat. Nyala lampu jarak jauh dan jarak dekat dikontrol oleh dimmer switch. Lampu kepala menyala bersamaan dengan lampu belakang melalui saklar tarik atau putar. Lampu kepala yang dipakai ada dua tipe, yaitu tipe sealed beam dan bola lampu. Jenis Sealed beam banyak dipakai pada kendaraan yang kostruksinya filamen, kaca dan reflektornya menjadi satu kesatuan. Tipe bola lampu banyak digunakan sebagai lampu depan pada sepeda motor.

    Gambar Rangkaian Lampu


    Nama – nama komponen rangkaian lampu kepala dengan 2 relay:

    1. Lampu Depan (Head Lamp) 

    Lampu Depan ( Head Lamp) berfungsi memberikan penerangan untuk bagian depan kendaraan terutama bila berjalan di malam hari dan waktu-waktu tertentu seperti cuaca berkabut, hujan lebat dan situasi lainnya yang memerlukan penerangan.

    2. Relay
    Relay berfungsi untuk menciptakan arus seperti yang dihasilkan langsung dari bateri, agar beban kerja baterai berkurang.

    3. Saklar Pembagi (Saklar Dim)

    Saklar Pembagi (Saklar Dim) berfungsi untuk menyalakan lampu jarak jauh dan dekat.

    4. Saklar Utama

    Saklar Utama berfungsi untuk memudahkan penyalaan lampu baik lampu kota, lampu kepala atau sebaliknya.

    5. Sekring (Fuse)

    Sekring berfungsi untuk pengaman terhadap kerusakan jaringan sistem penerangan dan hubungan singkat.

    6. Baterai

    Batre Berfungsi Untuk Memberikan tenaga listrik pada putaran awal mesin (stater), menstabilkan tegangan pada sistem kelistrikan, menyediakan tenaga listrik untuk aksesoris dan instrumen lainnya.


    Kamis, 17 November 2016

    REGULATOR PADA MOBIL

                Regulator Pada Mobil

    Regulator berfungsi untuk mengontrol tegangan yang dihasilkan pembangkit listrik, mengontrol arus yang kelua, dan mencegah arus balik dari baterai. Ketiga fungsi tersebut dilaksanakan oleh tiga buah relai yang ada pada regulatornya, yaitu voltage regulator , pembatas arus, dan cut out relay.
    Hasil gambar untuk gambar regulator mobil
    1. Voltage regulator. Hasil gambar untuk gambar regulator mobil regulator berfungsi untuk mengontrol listrik yang dihasilkan agar selalu tetap. Prinsip kerjanya adalah pada saat tegangan listrik mulai naik dan arus listrik tersebut secara otomatis dialirkan melalui sebuah tahanan yang dihubungkan seri dengan kumparan medan ( field coil ) sehingga arus yang masuk ke kmuparan medan dibatasi. Akibatnya tegangan listrik yang dibangkitkan menjadi turun. Jika tegangan listrik turun maka secara otomatis arus listrik mengalir melalui tanpa tahanan yang dihubungkan seri tersebut. Akibatnya tegangan listrik naik kembali. Naiknya tegangan listrik tersebut dapat diatur dengan menyetel keteganan pegas dan celah udara pada voltage regulator tersebut. Pegas yang terlalu kuat mengakibatkan tegangan listrik melebihi ketentuan sedangkan pegas yang terlalu lemah berakibat tegangan listrik yang dialirkan ke kumparan medan lebih rendah dari seharusnya. Celah udara yang terlalu besar akan memperlambat pembukaan kontak pemutusnya sehingga tegangan listriknya menjadi lebih besar dan sebaliknya.
    2. Pembatas arus. Tujuan pemasangan pembatas arus adalah untuk membatasi arus listrik yang berlebihan dari dinamo. Prinsip kerjanya: jika arus yang mengalir berlebihan maka secara otomatis arus tersebut akan dialirkan melalui sebuah tahanan kemudian baru menuju kumparan medan. Dengan demikian arus yang dibangkitkan dinamo menjadi kurang. Jika arus listrik yang dibangkitkan terlalu kecil maka secara otomatis karena gaya pegas mak arus listrik yang dialirkan ke kumparan medan tanpa melewati tahanan sehingga besar arus listrik akan bertambah. Penyetelan pada pembatas arus adalah menyetel tegangan pegas dengan cara menggantinya dengan pegas yang sesuai. Tegangan pegas yang terlalu besar mengakibatkan arus yang mengalir menjadi bertambah besar. Tegangan pegas yang lemah mengakibatkan arus yang mengalir ke kumparan medan menjadi terlalu kecil. Demikian pula dengan celah pada kontak pemutusnya. Celah yang terlalu besar mengakibatkan arus yang mengalir menjadi kecil sedangkan celah yang terlalu kecil mengakibatkan arus yang mengalir menjadi terlalu besar. 
    3. Cut out relay, Tegangan listrik yang dibangkitkan oleh dinamo dipengaruhi oleh putaran dinamo tersebut. Pada putaran rendah tegangan listrik yang dibangkitkan turun. Pada suatu putaran tertentu tegangan listrik yang dibangkitkan dinamo lebih rendah dari tegangan listrik baterai, jika keadaan ini dibiarkan maka akan terjadi arus balik, yaitu arus yang mengalir dari baterai ke dinamo. Untuk mengatasi hal ini maka dipasang cut out relay yang berfungsi untuk mencegah arus balik tersebut. Prinsip kerja cut out relay hampir sama dengan voltage regulator dan pembatas arus, yaitu dengan memanfaatkan gaya magnet dari inti besi. Pada saat dinamo belum berputar maka hubungan ke baterai masih terputus karena gaya magnet yang ada pada inti besi belum cukup kuat untuk melawan gaya pegas yang menahan kontak pemutus. Hubungan pengisian ke baterai baru akan tersambung pada saat gaya kemagnetan tersebut mampu melawan gaya tarik pegas. Hal ini terjadi jika tegangan listrik yang dibangkitkan dinamo lebih besar dari tegangan listrik baterai. Hal - hal yang perlu diperhatikan dan disetel pada cut out relay antara lain adalah celah kontak pemutus dan ketegangan pegas penahannya. Celah kontak pemutus yang terlalu besar akan memperlambat saat penutupannya sehingga tegangan pengisian dinamo menjadi jauh lebih besar dari tegangan baterai. Demikian pula dengan tegangan pegas penahannya. Tegangan pegas penahan yang terlalu besar mengakibatkan tegangan pengisian baterai menjadi jauh lebih besar dari tegangan pengisian. Seharusnya tegangan ini sesuai dengan ketentuan. Sebaliknya jika pegas penahannya terlalu lemah maka besar kemungkinan untuk terjadinya arus balik atau cut out relay tidak berfungsi. Ada pengatur tegangan dengan satu titik kontak pemutus dan ada yang dengan dua titik kontak pemutus. Regulator dengan satu titik kontak pemutus jarang digunakan karena mempunyai kelemahan, yaitu timbul bunga api yang cukup besar pada titik kontak pemutus ketika sedang membuka. Akibatnya umur kontak pemutus regulator menjadi lebih pendek. Untuk itu sekarang banyak digunakan regulator dengan dua titik kontak pemutus. Satu titik kontak pemutus untuk putaran rendah dan satunya lagi untuk putaran tinggi. Pada saat regulator bekerja maka kontak pemutus akan bergerak dari titik kontak putaran rendah ke titik kontak putaran tinggi. Apabila titi kontak bergerak dari sisi titik kontak putaran tinggi  ke sisi titik kontak putaran rendah akan terjadi penurunan tegangan. Untuk sistem 12 volt, penurunan tegangan terjadi sekitar 0,5 sampai 1 volt. Penyetel regulator tidak boleh dilakukan pada saat terjadi penuruan tegangan tersebut. Hal ini juga tidak boleh dilakukan pada saat tegangan alternator tidak stabil akibat perubahan tahanan pada kumparan karena pengaruh suhu.
    Hasil gambar untuk gambar regulator mobil
    Kumparan magnet pengatur tegangan terbuat dari kawat tembaga di mana tahanannya akan berubah jika suhunya naik sehingga gaya tarik magnet pada inti besi berkurang. Akibatnya tegangan yang dikeluarkan alternator menjadi lebih tinggi. Untuk mengatasi hal ini maka regulator menggunakan tahanan dan bimetal. Tapi untuk menstabilisasikan tegangan dari keadaan tersebut diperlukan waktu beberapa menit. Pada saat itulah penyetelan tidak boleh dilakukan.